Apa yang terjadi pada sebuah negara kalo punya pemimpin yang hidupnya di semesta yang berbeda?
Udah pasti ga pernah cocok. Apapun. Mulai dari datanya, informasinya, kebijakannya bahkan pemikirannya.
Kalo dari data dan informasinya aja udah salah, gimana bisa ngasih pemikiran dan kebijakan yang tepat buat negaranya?
Kita berandai-andai terdapat 2 semesta di alam raya ini, yaitu S-45 dan S-01. Kependekan dari Semesta 170845 dan Semesta 817101. Si Presiden dipilihnya sama rakyat S-45, tapi dia ngerasanya hidup di S-01. Dianggapnya, rakyatnya juga ada di sana, atau dia ngerasanya ga perlu rakyat lagi karna udah menang pilpres?
Akibatnya apa?
Datanya ga ada yang bener, infonya kebanyakan dusta semuanya. Rakyatnya dimana, datanya pake punya siapa? Ancur total pengambilan keputusan dan kebijakannya. Presidennya seolah-olah ngasih kebijakan memihak sama rakyat, tapi rakyat sama sekali ga ngerasain dampaknya.
Presidennya hidup di multi-semesta, dan sepertinya didukung sama pembantu-pembantunya. Dia ngeliatnya dari "menara gading", berdasarkan info-info pembantunya. Ketika turun ke lapangan, ngerasa ada yang beda, baru deh ketauan kalo pembantunya ngasih info bohong.
Gue rasa sih pembantunya ngasih info bohong karena males tu presiden jadi tantrum aja. Kalo menurut keyakinan gue, itu orang emang ga bisa nerima kritik dari siapapun. Ngerasa keputusannya udah paling valid dan sesuai sama kondisi rakyatnya. Entah pake data apaan atau jangan-jangan berdasarkan wangsit doang.
Karena pembantunya takut ini presiden tantrum, jadinya infonya ga pernah akurat. Presidennya ngerasa baik-baik aja, dan akhirnya yang bingung rakyatnya. Kok bisa sih dia bilang gitu? Sementara kenyataan di lapangan berbanding terbalik selama ini.
Itulah yang gue bilang dia ini "presiden multiverse". Karna dia cuman hidup di dunianya sendiri tanpa tau dunia yang harusnya dia pimpin seperti apa.
Bukti lain kalo dia ini hidup di semesta lain adalah: dia lebih mementingkan gaji APH (Aparat Penegak Hukum) daripada gaji tenaga pendidikan alias guru dan dosen. Dia lebih mementingkan kesejahteran orang-orang aja daripada tenaga pendidikan yang lebih perlu prioritas.
Dia pernah sih naikin gaji guru sampe nangis-nangis. Tapi SEKALI DOANG! Habis itu ngerasa tugasnya udah selesai dan makin menggila naikin gaji APH terus-terusan. Giliran ngomong mau gaji guru, ternyata cuman "keseleo lidah" doang. Alasan lainnya bilang kalo ga bisa naikin gaji guru karna ga ada duitnya. Ga lama habis ngeluarin pernyataan itu, dia malah naikin gaji APH lagi. Udah gila.
Selain itu, dia juga pernah bilang kalo rakyat sekarang bahagia saat dia pimpin, kepuasannya tinggi sampai 80%. Padahal survei lain bilang kalo lebih banyak ga puasnya daripada puasnya sama ini presiden. Gue rasa, yang survei 80% puas itu bot semua deh yang ngisi, surveinya dikerjain di S-01 tapi dikasih liat ke S-45.
Dia juga pernah bilang kalo banyak petani yang bisa keluar negeri berkat kepemimpinannya. Dia ga tau kali ya kalo orang bisa keluar negeri itu mesti nabung bertahun-tahun dulu? Ga kayak dia, yang udah kayak sejak keturunan kakeknya. Mau keluar negeri hari ini gampang tanpa nunggu nabung dulu.
Punya presiden kaya dari lahir ternyata bikin dia ga bisa "nyentuh tanah". Ga ngerti permasalahan orang miskin karena ga pernah ngalamin hidup susah. Begitu ngeliat orang bisa keluar negeri, dia kira itu orang sudah kaya sekaya dia. Padahal, kenyataannya, orang itu harus nabung bertahun-tahun untuk bisa keluar negeri mungkin cuman sekali seumur hidup itu!
Kalo baca data aja masih kagak becus, ya jelas hancurlah kebijakannya. Bisa baca data itu penting, tapi melihat kondisi riil di lapangan di balik data itu jauh lebih krusial. Jangan asal baca data bagus doang, terus dijadiin pencapaian padahal itu data mentah tanpa ada analisa di belakangnya.
Dia juga pernah bilang kalo ojol (ojek online) pendapatannya jadi naik pas dia jadi presiden. Padahal, aslinya ojol-ojol lagi sepi orderan karena orang nahan diri buat jajan. Kalo pun mau jajan, orang-orang lebih milih untuk jajan sendiri karena lebih murah. Gue termasuk salah satu yang mengurangi jajan di ojol sekarang.
Jadi, meskipun potongan komisinya atau penetapan batas pembayarannya udah diatur sama pemerenta. Kemudian ada aturan/skema THR ke supir ojol, dan lainnya. Ga ngaruh juga karna faktor terpentingnya justru dari orderan juga ujungnya.
Ada lagi kebijakan koperasi di desa. Dia ngeliatnya di desa itu belum ada koperasinya. Makanya diadain proyek KDMP, yang menurut keyakinan gue, ini proyek "diada-adain" doang. Padahal, di desa itu kan udah ada koperasinya kan, ya? Tinggal berdayain itu aja ga sih? Kenapa harus bikin proyek baru lagi coba?
Karena presidennya hidup di S-01, di semesta itu setiap desa masih ga punya koperasi. Jadi, menurutnya, harus ada proyek pembangunan koperasi setiap desa. Keren, kan?
Proyek andalannya, Mingkem Bagong Gendut itu juga sama anehnya. Okelah mau ngasih makan anak-anak sekolah secara gratis. Okelah mau pake APBN alias duit rakyat buat ngasih makannya. Tapi, kalo lu udah tau ada pengusaha-pengusaha sayur, peternak ayam dan telur di dekat lokasi-lokasi dapurnya, berdayakanlah mereka itu!
Bukannya memberdayakan yang sudah ada, dia malah mau bikin peternakan baru. Biar ada proyeknya, jadi bisa dibagi-bagi ke kroni-kroninya juga, kan. Lebih cuan kayak gitu, daripada memberdayakan pengusaha yang bukan dari inner circle-nya sendiri. Relasi tetap terjaga, wibawa makin dapet dan orang makin hormat sama dia.
Jadi wajar banget ketika dia ngasih kebijakan atau program yang menurut kita ga tepat sasaran. Karena sasarannya bukan kita, tapi temen-temennya. Rakyat S-45 yang ga punya previlage apa-apa, cuman dikasih recehan doang sama dia. Orang-orang terdekatnya malah makin kaya, dari duit negara alias pajak rakyat.
Jadi, sebenarnya dia itu presiden di semesta yang mana, sih? Kok gue ragu ya dia ini berada di semesta yang tepat. Menurut lu gimana?










