Hal-Hal Yang Perlu Ditanyakan Saat Interview Kerja

Sepanjang karier pengangguran gue sebanyak 3 tahun, udah beberapa kali melewati tahapan interview. Entah itu sama HR ataupun bareng sama user-nya langsung. Meskipun pengalaman interview ga banyak-banyak banget, tapi dari semua pengalaman itu gue evaluasi satu-satu.

Berdasarkan hasil evaluasi itu, gue perbaiki terus cara menjawab, POV dari jawaban yang dilontarkan dan melihat maksud dari pertanyaan yang diajukan. Dengan begitu, pada interview berikutnya, gue jadi lebih siap sama pertanyaannya dan cara menjawabnya juga.

Salah satu bagian favorit gue ketika interview kerja adalah ketika dikasih kesempatan untuk bertanya balik ke pewawancaranya. Karena ini adalah kesempatan "emas" untuk nunjukkin seberapa antusias kita sama perusahaan yang kita lamar. Kita juga melihat sudut pandang perusahaan terhadap karyawan yang sedang mereka cari.

Maka dari itu, penting banget untuk punya pertanyaan jitu agar kita sebagai job seeker tau dan paham apakah skill punya kita bisa match sama kebutuhan perusahaan. Juga agar kita tau apakah budaya kerjanya cocok dengan apa yang kita yakini selama ini.

Lalu apa saja hal-hal yang perlu kamu tanyakan saat interview kerja?

1. Budaya kerja perusahaannya

Ini pertanyaan andalan gue kalo dikasih kesempatan untuk nanya balik ke perusahaannya. Simpel aja, kamu cukup tanyain "Kalo boleh tau budaya kerja di kantor ini seperti apa ya Pak/Bu?". Udah, kalo mereka ngerti, bakalan ngejelasin apa saja yang terjadi di perusahaan tempat kamu ngelamar. 

Kamu bakalan tau macam-macam, bisa jadi hari kerjanya, terus kamu akan koordinasi ke siapa, apa aja yang akan dilakukan ketika kamu bekerja. Macam-macam, lah info perusahaan yang bakalan kamu dapatkan. Gara-gara pertanyaan ini, gue pernah dapat info kalo perusahaan yang gue lamar itu dikelola sama keluarga dan katanya jangan terlalu berharap naik pangkat kalo kerja di sini. Whahahaha! Gila ga tuh?

Untungnya gue ga lolos interview di sana karena memang jawaban gue juga payah wahahaha!

Terus tujuannya apa si nanyain beginian? Cuman pengen ngulik info orang dalam doang? Ga dong...!

Tujuannya adalah untuk ngasih sinyal ke perusahaan kalo kamu memang antusias pengen kerja di sana. Ga semua orang mau tau budaya kerja kantor sebelum dia masuk, lho! Jadi, selain kamu riset di google perusahaan yang akan kamu lamar, kamu juga kepengen tau "dalemannya" kayak gimana. Artinya, kamu memang sepengen itu kerja di kantor itu.

Kamu jadi keliatan beda di antara pelamar lainnya hanya karena pertanyaan ini.

2. Skill tambahan lain

Mau tau ga cara dapat saran profesional dari orang yang berpengalaman bertahun - tahun tanpa harus bayar mahal? Kalo kita dipanggil interview, selain membuka kesempatan untuk nambah relasi, kita juga ketemu sama orang-orang yang lebih berpengalaman pastinya. Kita bisa manfaatkan situasi ini untuk bikin para profesional itu ngasih input/saran terhadap keahlian yang kita miliki.

Ini pertanyaan favorit gue nomer 2, kamu tinggal tanya aja "Selain skill yang udah saya miliki saat ini, kira-kira skill apa lagi yang perlu saya pelajari untuk bisa mendukung pekerjaan saya nanti?"

Menurut gue pertanyaan ini cukup powerfull, apalagi kalo kamu masih fresh graduate yang minim pengalaman kerja. Buat yang udah berpengalaman juga berguna, kok. Pasti bakalan dapat insight yang berbeda dari tiap perusahaannya. Karena beda perusahaan, beda kebutuhannya juga.

Terus apa gunanya pertanyaan ini?

Buat si pelamar ini penting banget, untuk tau apakah skill yang dimiliki udah match sama kebutuhan perusahaan. Biasanya dari jawaba HRD kita bakalan tau apakah kita emang match sama perusahaan atau belum. Kemudian apakah kita bisa ngejar match skill itu dengan melihat budaya kerja kita dengan budaya kerja perusahaan. 

Buat HRD juga penting, pertanyaan ini bikin mereka ngeliat kemampuan adaptasi, meliat tipe belajarnya (fast or slow learner) si calon karyawan untuk bisa memenuhi kebutuhan perusahaan. Dari sudut pandang HRD, kamu sebagai pelamar dianggap punya keinginan lebih untuk bisa berkontribusi di perusahaan, karena pengen tau sejauh apa skill kamu diperlukan saat bekerja.

3. Proses selanjutnya

Setiap kali interview, usahakan selalu bertanya hal ini, ya! Ini penting untuk bisa mempersiapkan diri jika lolos ke tahap berikutnya. Apalagi kalo ada tahap interview berlapis-lapis, itu kan perlu persiapan mental juga buat kamu pastinya. Kalo gue jujur ga terlalu suka ada psikotes sebenarnya, karena sepanjang karier sebagai job seeker, jarang lolos tes kalo ada psikotesnya hahahah!

Pertanyaanya sederhana aja, "Setelah interview ini, proses seleksi selanjutnya seperti apa ya, Pak/Bu? Dan kira-kira berapa lama jeda antar tahapannya itu?"

Dengan begitu, kamu punya estimasi waktu untuk melakukan persiapan jika lolos ke tahap berikutnya. Selain punya waktu persiapan, kamu juga bisa mengestimasikan waktu untuk melakukan follow up, jaga-jaga kalo aja HRD mungkin lupa ngasih tau kamu terkait hasil interview sebelumnya.

Buat HRD juga menentukan, dari sudut pandangnya dia, kamu memang serius mempersiapkan diri untuk tahapan seleksi ini. Kasarnya, kamu bakalan diliat emang beneran niat kerja apa ga, gitu. Dari persiapan yang kamu lakukan  untuk menghadapi tahapan seleksi berikutnya.

* * *

Perlu untuk diketahui, tidak semua perusahaan membuka kesempatan untuk nanya balik seperti ini. Kalo lu ketemu yang kayak begini, ga peru marah, biasa aja. Karena mungkin aja personilnya ga terbiasa ngelakuin interview, jadi lupa untuk ngebuka opsi ini. Mungkin juga, kebijakan dari manajemen perusahaannya seperti itu. Karena ini bukan sebuah kewajiban, tapi kalo ada perusahaan yang memberikan kesempatan ini, manfaatkan dengan baik, ya!

Kamu juga ga perlu maksa bertanya kalo ga terbuka kesempatan untuk tanya balik. Kecuali untuk pertanyaan nomer 3 menurut gue perlu ditanyain, sih. Karena itu penting banget untuk tau sebanyak apa tahapan seleksi yang dilakukan sama perusahaan tempat kamu ngelamar. 

Ketika kamu menemukan jawaban yang tidak sesuai harapan, ga perlu dibaperin.Tidak semua hal yang bisa kita kendalikan, salah satuny adalah reaksi/jawaban orang atas pertanyaan yang kita ajukan. Belajarlah untuk lebih memfokuskan energimu untuk hal-hal yang bisa kamu kendalikan saja.

Semoga tulisan bertopik karir yang ga seberapa ini bisa bantu kamu dapetin pekerjaan impianmu, ya! Kalo ada pertanyaa, tuliskan aja di kolom komentar.

Cerita Lebaran Tahun Ini

Pada setiap momen lebaran selalu ada cerita yang mengiringinya. Meskipun dilalui dengan orang dan tempat yang sama, namun momennya hampir pasti tidak selalu sama. Karena hidup setiap orang selalu bergerak, dinamis dan terus bertumbuh. Akan jadi aneh ketika ada cerita yang sama ketika mengalami momen yang berbeda.

Tak terkecuali dengan lebaran gue tahun ini. Masih dilalui dengan orang-orang yang sama, meskipun beberapa agenda ada yang berbeda. Membuat setiap momen lebaran selalu membawa ceritanya masing-masing.

Lebaran kali ini memang cenderung berbeda dengan tahun lalu. Pertama terkait agendanya. Salah satu yang paling berbeda adalah ga ada keliling ke rumah-rumah tetangga sekitar untuk salam-salaman. Karena ibu yang sering ngumpulin tetangga sekitar ini udah meninggal beberapa bulan yang lalu. Biasanya kalo masih ada beliau tu, para tetangga ngumpulnya di rumah beliau semua sehabis solat ied.

Selain agenda ngumpul tetangga yang ga ada, ada beberapa spot yang taun lalu ga dikunjungi jadinya masuk agenda kunjungan. Salah satunya adalah rumah ponakan bapak gue. Kebetulan suaminya beberapa bulan lalu meninggal dunia, jadi kami mau sekalian nengokin kabarnya dan anak-anaknya juga.

Salah satu yang paling gue notice di hari lebaran pertama ini adalah, kami cukup lama berkunjung ke rumah iparnya bapak gue. Ini di luar prediksi kami juga, pengennya cuman salam-salaman dan ngobrol-ngobrol dikit aja. Pada akhirnya kami disuguhin makan dan bapak gue bahkan ikutan foto keluarga juga di sana. Padahal sebelumnya dia ga pernah ikut foto begituan.

Akibatnya, agenda perjalanan berikutnya ikutan molor juga. Sampe pada akhirnya kami nyampe kesorean di tujuan akhir: rumah ponakan bapak. Baliknya habis maghrib setelah kami disuguhi makan malam nasi mandhi sama mereka. Baru pertama kali itu ngerasain rasanya nasi mandhi. Ternyata berasnya panjang dan kurus-kurus, ya. Rasanya juga cenderung agak hambar dari pada beras biasa.

Pulangnya kami semua tepar ketiduran. Gue bahkan lupa matiin lampu kamar pas mau tidur karena ketiduran. Jujur ketiduran itu enak banget, apalagi kalo badan udah cape banget seharian di luar rumah ketemu banyak orang.

Salah dua yang gue notice dari kegiatan berlebaran hari pertama ini adalah: sendawa yang ga enak banget. Ini gue perhatikan udah kejadian sejak beberapa kali lebaran ini. Kalo pas lagi lebaran hari pertama, penyakit ini selalu muncul. Penyakit ini cuman muncul di lebaran hari pertama doang, setelahnya ga ada lagi. Jujur janggal.

Dari yang gue telusuri berdasarkan sumber AI-nya google, penyebabnya ada beberapa faktor. 

Pertama, karena makan terburu-buru sehingga banyak udara yang tertelan ke dalam lambung. Udara berlebih ini bikin badan kita berusaha ngeluarin sebanyak mungkin. Ini mungkin benar, karena sebelum berangkat solat ied, gue makannya buru-buru takut telat dan ga dapet tempat solat.

Kedua, karena terlalu banyak mengonsumsi garam-garaman. Kalo untuk yang satu ini kecil kemungkinannya. Karena gue ga terlalu suka makan makanan yang asin. Pokoknya makanan yang keasinan atau kemanisan, bukan tipe gue banget.

Ketiga, terlalu banyak mengonsumsi telur. Kalo yang ini gue yakin emang bener. Karena dalam beberapa hari ini gue emang lagi rajin makan telur dalam berbagai macam olahan. Mulai dari telur mata sapi, telor masak merah dan telor rebus lainnya. Kalo diliat dari track record ini, emang rada berlebihan, sih.

Akibatnya, seharian perut gue ga enak banget. Rasanya penuh banget tapi bukan karena kenyang. Gue juga jadi BAB 2 kali dalam sehari buat maksimalin usaha ngeluarin penyakit ini. Ga bisa menikmati momennya dengan tenang dan damai. Padahal ini momen sekali setahun yang jarang terjadi, masa harus kena penyakit ini mulu?

Gue bertekad lebaran tahun depan harus lebih baik lagi untuk bisa menikmati momennya dengan lebih khusyu. Minimal ga kena penyakit yang sama aja, udah seneng banget rasanya. Apalagi kalo bisa ada momen priceless nan indah yang terjadi saat itu. Who knows, ga ada yang tau.

Alhamdulillah masih dikasih rezeki, umur yang panjang, dan badan yang sehat jadinya masih bisa silaturahmi ke keluarga-keluarga, meskipun setahun sekali. Alhamdulillah juga keluarga-keluarga yang disamperin masih pada sehat dan panjang umur juga.

Harapan gue, kita semua dikasih rezeki yang lebih banyak, umur yang lebih panjang dan badan yang lebih sehat buat berlebaran tahun depan. Bisa menikmati momen lebih dalam dan bisa mengabadikan lebih banyak momen daripada tahun ini. Aamiin.

Kriteria Cafe Yang Cocok Untuk Nongkrong

Berawal dari bukber di hotel yang ada live music-nya, gue jadi kepikiran untuk bikin tulisan ini. Soalnya ada banyak cafe yang lebih mentingin musik yang kenceng daripada sekadar jadi tempat nongkrong. Mungkin karena ga kepengen orang betah di tempatnya tapi ga mesen apa-apa, jadinya dipakein musik yang kenceng biar cepet pulang hahahaha.

Anyway, kriteria ini berdasarkan preferensi pribadi aja, ya. Jadi ini ga mutlak rata sama untuk seluruh cafe. Lagian, siapa gue yang bisa ngasih standar buat cafe? Punya cafe juga kagak. Gue cuman orang yang kepengen nongkrong di cafe dengan tenang karena tujuan ke sana adalah untuk ngobrol sama orang-orang terdekat gue, bukan mau dengerin musiknya.

1. Minim kebisingan

Prioritas utama buat gue kalo mau nongkrong di cafe adalah minim dari kebisingan. Gue menghindari banget cafe yang open kitchen, karena area dapur itu biasanya bising banget. Lebih bising daripada pengunjungnya sendiri. Ga cuman dapur, ya, tapi juga area penyajian kopi dan minuman tu lumayan berisik apalagi kalo jam rame.

Sebisa mungkin gue akan menghindari datang ke cafe dengan format seperti itu. Demi kenyamanan masing-masing aja, buat gue kebisingan dapur dan sekitarnya itu harusnya ada di dalam ruangan yang lain atau minimal tertutup. Kalo digabung dengan area pengunjung, makin berasa bising di telinga.

Bising ini termasuk karyawan yang ngobrol juga, ya. Setauku sih karyawan cafe udah jarang yang ngobrol kenceng ketika ada pengunjung, ya. Mungkin udah ada SOP-nya juga terkait hal ini. Karena menurutku karyawan yang ngobrol dan suaranya kenceng tu termasuk sumber kebisingan cafe juga. 

Untuk hal-hal yang bisa diminimalisir kayak begini, sih harusnya semua cafe bisa ngelakuin, ya. Tapi mungkin aja penerapannya di setiap cafe berbeda karena tergantung konsep dan format cafenya kayak gimana. Kalo preferensi gue tentu saja ga akan memilih cafe yang ga bisa meminimalisir potensi kebisingan yang ga penting kayak begini, ya.

2. Ga ada live music

Karena ke cafe itu tujuannya buat ngobrol, tentu saja gue ga mau ke cafe yang punya live music-nya. Mau itu livenya akustikan ataupun full band. Buat gue sangat ga efektif ngobrolnya ketika berada di cafe dengan format live music di dalamnya. Tidak menyamarkan kebisingan cafenya, tapi justru jadi sumber bising paling fatal jadinya. Termasuk cafe yang muter musik lewat aplikasi kayak youtube music ataupun spotify. Apalagi kalo youtube/spotifynya ga premium karna ga beli di sini, jadi kayak nongkrong buat denger iklan youtube/spotify doang.

Okelah kalo mau pake live music, tapi jangan kenceng-kenceng juga volumenya! Kan ga semua orang ke cafe lu pengen denger/tau selera musik lu kayak apa. Ada juga yang pengen ngobrol, rapat, nugas bahkan pengen menyendiri tanpa ada gangguan luar. Atau jangan-jangan sengaja dibikin ga betah biar ga lama-lama di cafe lu ya? Hahahha.

Lagian kalo cafe lu nyalain musik, kan harus bayar royalti, ya. Emang lu ada budget buat bayar royalti ke LMKN? Ntar ditagih royalti bingung lagi. Paling aman ga perlu putar lagu, deh! Biar pengunjungnya bisa ngobrol dengan tenang, lu sebagai owner juga ga takut dikejar-kejar disuruh bayar royalti.

3. Jauh dari jalan raya

Kebisingan jalan raya itu salah satu penyumbang kebisingan yang ga bisa dihindari. Apalagi kalo pengguna jalannya pake knalpot super berisik itu. Bagus didengerin kagak, yang ada bikin rusak gendang telinga doang. Tapi memang dari sisi bisnis bisa menekan biaya promosi, karna bisa diliat banyak orang secara ga langsung.

Cafe yang jauh dari hiruk pikuk jalan raya itu buat gue sesuatu yang layak diapresiasi. Ga takut cafenya sepi karena tersembunyi dari jalan raya. Sekaligus meminimalisir potensi kebisingan tambahan: suara jalan raya. Nilai plus kalo bisa tahan untuk ga muter musik.

Cafe yang "bisingnya" itu hanya dari suara alam sekitar. Suara jangkrik, suara angin sepoi-sepoi yang melalui pohon-pohon sekitar, suara gemercik air di kolam ikan itu buat gue "musik" yang sopan banget di telinga. Bikin kita kayak menyatu sama alamnya gitu.

4. Buka 24 jam

Cafe yang berani buka sampai 24 jam itu sebuah previlage buat pengunjungnya. Karena bisa nongkrong sepuasnya tanpa takut diusir karena udah mau tutup. Mau nongkrong jam berapapun ga perlu pusing mau kemana, tinggal ke cafe yang buka 24 jam udah beres.

Mungkin lu mikir "siapa juga yang mau nongkrong 24 jam di cafe doang?" Ya emang ga ada juga sih kayaknya. Poinnya adalah ga perlu takut untuk nongkrong berlama-lama karena mereka ga ada tutupnya. Apalagi kalo lu punya temen yang ceritanya banyak banget ga kelar-kelar, butuh waktu yang panjang untuk sekali nongkrong. 

Gue sih ga masalah harus nongkrong lama-lama sama temen yang emang udah lama banget ga ketemu. Karena waktunya cuman ada saat itu aja, jadi harus dimaksimalin dengan baik. Kegiatan ini harus didukung sama fasilitas yang memadai, salah satunya adalah tempat nongkrong yang bisa buka 24 jam.

* * *

Kenapa harga ga dimasukin ke dalam poin kriteria? Karena buat gue harga itu relatif banget, tergantung kemampuan pengunjungnya. Faktor lainnya adalah fasilitas yang ditawarkan sama cafenya. Tentu cafe yang buka 24 jam akan berbeda rate harga menunya dengan cafe yang cuman buka sampai jam 10 malam. Buat gue, harga tu ga terlalu masalah, asal sesuai sama apa yang ditawarkan cafenya.

Tentu ga semua cafe bisa mengikuti kriteria yang gue perlukan ini. Tentu perlu modal yang ga sedikit kalo mau ngikutin semua kriteria di atas. Lagi pula ada banyak faktor yang memengaruhi pebisnis untuk bikin cafe. Tentu kriteria yang gue tulis ini ga ideal buat mereka yang berorientasi profit di bisnisnya.

Karena ini bukan sebuah kewajiban, mungkin punya 2 dari 4 kriteria ini udah cukup bagus. Kalo punya 3 poin udah oke banget, apalagi bisa melengkapi semuanya.

Kita sebagai pengunjung bisa punya kebebasan untuk memilih tempat nongkrong sendiri. Kalo gue udah pasti nyari 4 poin ini dulu kalo mau nongkrong. Mau itu berdua doang sama pasangan ataupun ramean sama temen-temen.

Cerita Puasa Tahun Ini

Bulan Ramadan selalu membawa cerita menarik dalam hidup gue. Ga terkecuali ramadan tahun 2026 ini. Buat gue, ramadan tahun ini rada sedikit butuh perjuangan. Saking struggle-nya ramadan taun ini, gue sampe lupa ramadan taun lalu tu kayak gimana kondisinya.

Bisa dibilang puasa kali ini lebih berat ujiannya. Sebagai orang yang suka banget sama tidur, jadwal puasa ini membuat jam tidur gue berubah drastis banget. Ga cuman berubah, jam tidur ikut berkurang ada sesi makan sahur sebelum subuh. Dilematis banget buat diri ini.

Pengennya jam tidur ga berkurang, tapi ga mungkin melewatkan sahur. Kalo ga sahur, badan gue kemungkinan lemes, tapi bisa jadi ga ngantuk. Kalo sahur, badan bisa kuat sampe buka, tapi ngantuk karna kurang tidur. Lu paham kan dilema semacam ini??

Intinya gue suka banget tidur dan ga kuat banget kalo harus nahan ngantuk. Makanya kalo kurang tidur gue tu berasanya cape banget. Apalagi kalo duet maut sama pilek, bersin dan meler-melernya, langsung cepet banget capenya itu.

Pas puasa hari pertama banget, gue udah kena pilek karena kurang tidur beberapa hari sebelumnya. Ditambah dengan aktivitas tambahan berupa sahur dan terawih makin menambah faktor penurunan daya tahan tubuh itu. Gue ga bilang sahur dan terawih itu jelek, tapi memang dari gue sendiri yang kurang bisa ngatur waktunya.

Jujur gue rada kesulitan beradaptasi sama rutinitas ini. Ngaruh banget ke produktifitas kerjaan. Gue jadi kurang konsentrasi sama kerjaan, progressnya jadi lamban. Gue ga enak sama atasan sebenarnya, meskipun dia ga terlalu memusingkan hal itu. Buat dia yang penting ada pergerakan dari setiap kerjaan rutin yang jadi kewajiban gue.

Jam tidur gue jadi berubah dan terjadi dalam 2 periode. Pertama tidur pas malam hari, kedua tidur setelah subuh. Tidur yang paling lama itu gue usahain di malam hari, kalo tidur yang setelah subuh itu relatif sebentar doang. Cuman buat mengisi jam tidur biar ga terlalu ngantuk banget. Itupun masih ngantuk banget waktu kerja.

Kekurangan jam tidur yang ga bisa dibayar ini bikin gue rada stress sebenarnya. Praktis sepanjang bulan puasa ini, gue lebih sering pilek. Pengen banget rasanya ngajuin izin sakit sehari untuk membayar hutang jam tidur yang belum lunas ini. Harapannya dengan izin 1 hari itu, bisa mengembalikan stamina tubuh 100%.

Gue punya 2 pilihan, pertama, bertahan sebentar beberapa hari lagi sebelum libur panjang. Cuman perlu sekitar beberapa hari lagi untuk mendapatkan libur panjang di kantor. Gue bisa ngerjain ini dibarengi melatih skill tidur di meja kerja pas lagi istirahat. Ini akan jadi investasu skill yang bermanfaast kemudian hari.

Pilihan kedua, ambil izin 1 hari biar bisa libur lebih cepet. Ini agak beresiko karena akan memotong jatah cuti tahunan gue. Udah jatahnya sedikit masa mau diambil juga buat sehari doang? Rasanya kayak ga rela aja gitu. Sepertinya opsi ini ga akan gue ambil, deh.

Pengennya tu ada kebiasaan baru yang dibawa dari puasa tahun ini untuk bisa diterapkan. Sepertinya gue udah tau kebiasaan apa yang bisa dibawa dari puasa tahun ini wahahaha!

Begitulah cerita puasa gue tahun ini. Gue yakin lu juga punya cerita puasa masing-masing. Semoga cerita puasa lu bahagia dan menyenangkan tahun ini, ya! Kalo ga, ga perlu lama-lama sedih, ya, hidup terus berjalan, pastikan kamu menjalaninya dengan bahagia, meskipun suasanya udah beda.

Nitip pesan buat kamu yang punya banyak momen di bulan puasa ini:

Mumpung masih sempat, abadikan setiap momen yang terjadi di bulan puasa kali ini. Karena kita ga pernah tau kapan terakhir kali bisa merasakan momen itu lagi. Lagipula, momen yang sama tidak dapat diulang meskipun dengan orang yang sama dan tempat yang sama. Sebisa mungkin, abadikan momennya biar ga hilang gitu aja dan cuman bisa diingat dalam kepala.

Surabaya Day 3: Menikmati Car Free Day

Hari kedua di Surabaya udah mulai menyesuaikan diri dengan pergaulan orang-orang wiki ini. Sebisa mungkin mingle sama mereka dan terlibat percakapan ketika ngumpul. Minimal dengerin apa yang diobrolin dulu, ntar kalo tau topiknya baru ikutan masuk juga di obrolannya.

Pagi harinya gue mencoba rute jalan-jalan yang berbeda. Pengen liat suasana CFD yang ada di Surabaya. Kesampaian juga bisa CFD-an selain di Jakarta tahun lalu. Lokasi CFD-an di Surabaya yang gue datangin itu ada di Jalan Tunjungan. Hampir sepanjang jalan itu aktivitas CFD digelar. 

CFD di Surabaya lokasinya ada banyak cafe yang tersebar sepanjang jalan Tunjungan itu. Ada juga yang jualan streetfood di situ, sayangnya gue ga terlalu berminat untuk nyobain jajanan di sana. Padahal kapan lagi nyobain makanan khas Surabaya, kan?

Gue lebih suka menikmati momen CFD-an nya aja. Berasa jadi warlok kalo ikutan CFD di situ, padahal ga ngapa-ngapain selain people watching doang hahahaha!

Sepanjang jalan CFD itu banyak banget cafe-cafe kalcer bertebaran dan kepengen banget gue cobain satu-satu. Tapi karena ga memungkinkan, jadinya gue simpan untuk trip selanjutnya aja. Biar ada alasan untuk berangkat ke Surabaya lagi kapan-kapan hehehe.

Gue jalan kaki dari ujung jalan ke ujung jalan lainnya. Niatnya selain merasakan CFD, mau juga ngeliat beberapa objek sejarah di Surabaya. Kebetulan kemaren dikasih tau sesama kontributor wikipedia di Surabaya kalo di deket tempat acara itu ada beberapa spot yang bisa didatangin. Alhamdulillah ketemu beberapa spotnya.

1. Museum H. O. S. Tjokroaminoto

Letaknya memang agak jauh dari lokasi kami menginap. Ada kali sekitar 3 kilometer-an, kurang lebih 30 menit jalan kaki. Lokasi Museum ini masuk ke dalam gang gitu. Cuman ada sebagian kecil halaman yang bisa dipake buat parkir. Jadi, kalo lu berangkat naik motor, kayaknya bakalan parkir di luar gang, deh. Dekat dari museum ini ada toko buku juga, tapi masih belum buka.

Karena nyampe sono masih pagi banget, lokasinya masih belum buka. Gue cuman bisa liat tampak depannya aja. Sebenarnya yang disebut "museum" ini lebih cocok disebut rumah. Karena memang bangunannya adalah rumah tempat lahirnya beliau. 

Sebenarnya di deket museum ini ada juga lokasi Rumah Roeslan Abdul Ghani. Tapi karena ga keburu, jadinya gue tunda untuk ngeliat ke sana. Lagi-lagi gue simpan biar ada alasan balik lagi ke Surabaya, mweehhehe.

2. Gedung Nasional Indonesia

Jalan kaki sekitar 15 menit, nyampe ke lokasinya Gedung Nasional Indonesia Surabaya. Lokasi ini terdapat 3 bangunan besar: Pendopo utama, makam Dr. Soetomo dan Museum Dr. Soetomo. Pada bagian depan area ini juga ada patung Dr. Soetomo-nya.

Museum Dr. Soetomo

Waktu gue masuk ke sana, area ini belum dibuka untuk umum, tapi pagarnya terbuka sedikit dan ada 2 orang perempuan yang duduk di dalam pendoponya. Gue yakin mereka juga pengunjung atau lagi janjian sama temennya yang lain di sekitar situ. Gue mencoba berkeliling, di sapa dengan hangat oleh bapak penjaganya yang lagi nyapu halaman.

Karena ga dilarang untuk masuk, gue mencoba untuk berkeliling area ini. Karena masih pagi, jadi cenderung masih sejuk dan dingin. Padahal di sekitarnya ga terlalu banyak pepohonan. Kecuali di area dalam makamnya ada beberapa pohon yang menaungi halamannya. 

Areanya ga terlalu luas apalagi kalo cuman keliling di sekitaran halamannya doang. Kalo lagi jam operasional, mungkin gue bisa masuk ke dalam ruangan Museum Dr. Soetomo-nya. Penasaran juga sama isinya ada apaan aja di dalamnya. Akan gue simpan sebagai wishlist biar bisa balik lagi ke Surabaya.

3. Hotel Majapahit

Sebenarnya ini tuh pertama kali dilewatin kalo sesuai sama rute car free day dari hotel. Jujur gue juga ga tau kalo ga dikasih tau sama kontributor wiki yang lain kalo ini bangunan bersejarah banget. Hotel Majapahit dulunya bernama Hotel Yamato, saksi sejarah perobekan bendera Belanda yang menjadi cikal bakal bendera Indonesia.

Hotel Yamato Surabaya

Hotelnya berada persis di pinggir jalan Tunjungan, strategis banget. Apalagi sekarang ada banyak cafe untuk nongkrong di sekitaran hotelnya. Nyebrang dikit dari hotel udah ada mall Plaza Tunjungan. Harga kamarnya juga lumayan untuk kaum UMR kayak gue wahahahak!

Hotel ini emang udah dari sononya bagus dan cantik banget tampilannya. Waktu pagi dengan matahari yang ada di atas, keliatan putih bersih elegan sekali. Apalagi kalo malam, cantik dan anggun banget wujudnya. Sayangnya gue ga sempet ambil foto hotel ini waktu malam hari. Gue jadiin wishlist lagi aja deh buat kunjungan berikutnya hehehe.

* * *

Sebenarnya masih ada beberapa spot bersejarah yang belum gue samperin di Surabaya. Salah satunya adalah Wisata Susur Sungai yang lokasinya deket sama hotel tempat gue menginap itu. Jujur penasaran banget sama spot susur sungai itu. Apalagi gue udah pernah nyobain susur sungai di Banjarmasin, kan. Mau liat perbandingan wahana susur sungainya kayak gimana.

Perjalanan ke Surabaya rasanya terlalu singkat kalo melihat banyaknya spot yang masih belum gue kunjungin. Perlu kunjungan lanjutan untuk menghabiskan spot yang masih belum didatangi, setidaknya yang ada di sekitar hotel tempat gue nginep kemaren. Nanggung banget kalo sampe ga didatangin, gue jadi penasaran nantinya.

Seedbacklink