Terlalu Positive Thinking Itu Berbahaya

Salah satu yang gue pelajari berdasarkan kebiasaan orang rumah adalah tidak selalu memandang negatif orang lain. Pandangan ini gue dapatkan karena orang tua gue hampir selalu memandang negatif orang lain. Apapun yang dilakukannya, jarang sekali mendapatkan apresiasi. Selalu ada yang salah, selalu ada komentar negatif.

Makanya ketika berada di luar rumah, gue selalu berusaha untuk berpositive thingking terhadap orang lain. Apapun yang dia lakukan, gue berusaha untuk tidak berkomentar negatif. Gue berusaha untuk adil sejak dalam pikiran aja.

Awalnya gue kepengen sesuatu berjalan sesuai dengan pikiran gue. Kalo gue berlaku adil sejak dalam pikiran gue, orang pun juga akan berlaku sama terhadap gue. Diapun akan tetap sama berlaku adil dan ga akan ada niat jahatnya. Tapi, emang bener apa kata orang-orang: jangan berharap sama manusia.

Kalo kita berharap sama manusia, akan banyak kecewanya. Ga semua orang bertindak sesuai dengan harapan kita. Karena mereka manusia, punya akal dan pikirannya sendiri. Ga mungkin kita bisa kendalikan, apalagi kita juga sama-sama manusia, kan?

Emang bener ya, yang "terlalu" itu pasti ga baik. Karna gue terlalu berpikiran positif sama orang lain malah bikin celaka. Yang kejadian di gue sih bukan celaka secara fisik, ya. Tapi gue yakin ada aja yang fisiknya jadi karna pemikiran serupa kayak gue ini. Kalo gue sih yang kena lebih ke mentalnya, ya.

Terlalu berpositif thinking bikin gue jadi polos banget menilai seseorang. Menganggap semua orang itu ga punya niat jahat sama sekali. Anggapan yang fatal banget karena ga semua orang, pemikirannya kayak gue. Sayangnya ga cuman 1 orang yang gue anggap ga punya niat jahat. 

Gara-gara terlalu polos menilai orang lain ini, jadinya gue sendiri yang terjerumus.

Sesederhana berbagi informasi kompetisi saat kompetisinya masih berlangsung. Gue mencoba berniat baik untuk ngasih tau info yang ga ada di ketentuan ke temen-temen yang ikutan lomba. Dengan harapan mereka ga bakal nikung gue saat lomba berlangsung.

Ternyata, anggapan ini terlalu polos gue pikirkan.

Saat itu, posisinya gue ada di peringkat ketiga dan dia ada di peringkat empat. Begitu gue kasih info tentang lombanya, eh gue malah dibalap sama dia! Sekarang posisinya gue di peringkat empat. 

Terlalu polos bikin gue salah menilai orang lain.

Ga semua orang niatnya setulus itu. Semua punya kepentingannya masing-masing. Bahkan kalo perlu menyingkirkan orang lain untuk memuluskan kepentingan pribadi. Gue rasa sih hal kayak gini ga cuman terjadi di dalam kompetisi/lomba doang. Di dunia kerja dan dalam bidang lain juga sama aja.

Ada orang yang dengan sadar memanfaatkan kebaikan orang lain untuk keuntungan pribadi. Padahal, ada yang dengan niat hati untuk mengembangkan komunitas sama-sama. Ternyata ada juga yang manfaatin komunitas untuk portofolio pribadinya saja.

Kendaraannya memang sama, tapi tujuannya sampai beda-beda.

Suatu saat, kalo gue udah ngeliat ga ada harapan lagi buat perkumpulan itu berkembang, gue akan keluar. Tapi selama gue masih ada tenaga untuk ngebangun dan ngembanginnya, akan gue perjuangkan sampe akhir.

Gue pengennya semua yang ada di komunitas punya kesempatan yang sama. Ga cuman yang itu-itu aja yang dapatin previlage -nya. Kalo pengen eksklusif kayak gitu, gausah rekrut anggota baru. Lu lu pada aja yang ada di sono, biar lu lu doang yang dapet semuanya.

Sama halnya kayak tempat lu kerja. Bersaing sama rekan kerja secara sehat mah wajar-wajar aja. Di kantor akan selalu ada yang namanya "politik kantor" dan itu normal. Apalagi ini urusannya sama perut masing-masing. Tapi kalo udah saling sikut, saling manfaatin, fitnah sana sini, itu udah ga sehat namanya.

Kalo lu ngerasa lingkungan sekitar lu udah terlalu toksik, segera menjauh dari sana. Jangan biarkan diri lu terpapar lebih lama sama orang-orang seperti itu. Kalo masih belum bisa menjauh, minimalkan interaksi atau bentengi diri lu sama mindset-mindset yang kuat.

Intinya, mulai sekarang udah ga bisa lagi 100% berprasangka baik sama orang lain. Entah itu sama temen sendiri apalagi orang lain yang baru dikenal. Trus kalo punya info yang kalo keluar bisa bikin saingan lu jadi lebih unggul, mending simpan buat diri sendiri aja. Terakhir, Tinggalin temen/lingkungan toksik secepatnya, atau ubah pola pikir biar ga ikut terpapar toksik.

Merenungi Mindset Perencanaan Keuangan Yang Gue Miliki

Selama mulai mengenal yang namanya "perencanaan keuangan", jadi makin berhitung terhadap pengeluaran dan pemasukan yang terjadi. Bukan pelit, tapi pengen melihat sejauh apa kita bisa menggunakan uang yang kita punya. Apakah hanya disimpan untuk ditabung dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kayak makan dan jajan. Atau dibelanjakan ke hal-hal yang impulsif.

Awalnya mindset yang gue miliki adalah "Mending nabung duitnya untuk bisa dipake liburan dan jajan impulsif saat liburan". Yang gue pertahankan selama ini seperti itu,  sebelum mengenal kartu pokemon atau trading card game pada umumnya. Apakah gue sepelit itu? Ga juga, gue tetep jajan tapi terkontrol untuk pengeluaranya, terlebih pemasukannya juga lumayan.

Seiring berjalannya waktu, terlebih setelah mengenal hobi baru itu, gue mulai memikirkan ulang mindset yang tadi. Apakah emang harus seketat itu untuk mengatur pengeluaran gue? Emang uang yang gue simpen bakalan bisa bertahan lama? Terlebih nilainya dengan dollar makin lama makin turun. Lama-lama bakalan ga ada harganya ini duit.

Apalagi negara ini dipimpin sama presiden yang ga terlalu ngerti soal ekonomi. Jadinya makin ruwet perekonomian rakyatnya. Dia taunya cuman program makan gratisnya jalan doang, ga peduli rakyatnya udah ketindih sana sini. Udah harga barang-barang pada naik, kebijakannya ngaco banget lagi. Korbannya ya rakyat kecil, dong!

Gue pernah baca 1 kalimat di twitter yang bilang "yang namanya baterry health iphone udah pasti berkurang kalo dipake! kalo gamau berkurang, ya jangan dipake".

Jujur ini gue setuju, sih. Dimana-mana kalo sesuatu yang dipake harian itu, fungsinya akan menurun pelan-pelan. Tanda kalo iphone dipake yang battery health-nya berkurang. Wajar banget, dan ga perlu khawatir. Karna kita emang pake fungsinya buat keperluan sehari-hari.

Nah, pola pikir yang gue coba pake di manajemen pengeluaran sekarang. Duit emang bakalan berkurang kalo dipake. Wajar banget namanya juga dibelanjain, udah pasti berkurang dong? 

Hal yang bikin gue agak kurang nyaman itu spent yang cukup besar di bulan ini. Bahkan cenderung bisa bikin minus neraca keuangan bulan ini. Meskipun secara keseluruhan tabungan masih aman. Cuman ada rasa ga nyaman untuk ngeluarin duit sebanyak itu. Tapi gue seneng banget begitu dapat barangnya. Jadi agak paradoks memang.

Bisa jadi rasa ga nyaman itu muncul karena sebelum ga pernah spent uang sebanyak ini. Bahkan bisa dibilang terbanyak selama gue mencoba mengatur keuangan. Karena sebelum gue menghitung pengeluaran ini, ga pernah ngitung pengeluarannya wahahhaa!

Secara nomor rekening sih masih ada di angka aman, ya.

Mungkin perasaan paradoks ini emang sudah seharusnya "diterima" aja, ya. Mau itu perasaan janggal karena pengeluaran yang cukup besar bulan ini. Atau pun perasaan seneng ketika bisa dapatin produk yang udah kita beli itu. Karena memang begitulah seharusnya.

Ketika ngeluarin uang, ada rasa sedih karena ada nominal yang berkurang. Tapi ketika udah dapet barangnya, justru bikin bahagia karena kita bisa beli apa yang kita mau. Semua perasaan itu akan gue syukuri semuanya.

Gue bersyukur ada kemampuan (uang) untuk bisa beli apa yang gue pengen. Gue bersyukur bisa dapatin apa yang gue mau. Ga banyak orang yang bisa merasakan seperti itu. Ga perlu pelit sama diri sendiri, karena buat siapa lagi kita kerja siang-malam kalo ga buat diri sendiri dan keluarga?

Tapi, gue juga ngerti perasaan lu yang hari ini masih belum bisa mewujudkan keinginan lu. Gue bersimpati, karena gue pun juga merasakan hal yang sama. Ga semua hal bisa diwujudkan untuk saat ini. Gapapa dan wajar banget, kok. Di situlah seninya berusaha dan berdoa, kan?

Gapapa punya neraca keuangan yang ga seimbang. Asalkan bisa ngeliat keluarga kita masih bisa senyum, bahagia dan ketawa-ketawa. Itu jauh lebih mahal harganya daripada sekadar pundi-pundi rekening yang ga seberapa berkurang itu.

Tips Memilih Laptop untuk Travelling Lengkap dengan Rekomendasi Terbaik

Mobilitas yang semakin tinggi membuat kebutuhan laptop ikut berubah, terutama untuk pekerjaan remote yang bisa dilakukan dari mana saja. Laptop untuk perjalanan tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga ringan, efisien, dan siap digunakan di berbagai kondisi. Sehingga, laptop traveling menjadi kategori yang paling sering dipilih karena mengutamakan performa, daya tahan baterai, serta kemudahan dibawa tanpa mengorbankan kenyamanan kerja.

laptop travelling

Tips Memilih Laptop untuk Travelling

Dalam memilih perangkat untuk mobilitas tinggi, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pengalaman penggunaan tetap stabil di berbagai tempat. Berikut adalah tips dalam memilih laptop untuk traveling.

1. Bobot Ringan dan Desain Ringkas

Laptop dengan bobot di bawah 1,5 kg lebih ideal untuk perjalanan karena tidak membebani saat dibawa dalam tas. Desain yang tipis juga membantu saat digunakan di ruang terbatas seperti transportasi umum atau meja kecil di area publik. 

2. Daya Tahan Baterai Panjang

Ketersediaan sumber listrik tidak dapat selalu dipastikan saat bepergian. Karena itu, laptop dengan baterai besar menjadi hal yang penting. Kapasitas 70WHrs atau lebih umumnya mampu mendukung penggunaan sepanjang hari untuk aktivitas seperti pekerjaan kantor, presentasi, hingga komunikasi online ketika traveling.

3. Konektivitas Lengkap 

Port yang lengkap seperti USB Type-C, HDMI, dan dukungan Wi-Fi generasi terbaru sangat membantu dalam mendukung produktivitas. Konektivitas yang baik memastikan laptop tetap fleksibel saat terhubung dengan berbagai perangkat tambahan maupun jaringan internet di lokasi yang berbeda.

4. Performa Seimbang untuk Multitasking

Laptop untuk perjalanan tidak selalu membutuhkan spesifikasi tertinggi, tetapi harus cukup stabil untuk multitasking. Prosesor modern dengan dukungan RAM minimal 16GB memberikan ruang yang cukup untuk menjalankan berbagai aplikasi secara bersamaan tanpa hambatan.

Rekomendasi Laptop Terbaik untuk Traveling

Setelah memahami faktor utama tersebut, berikut beberapa rekomendasi laptop yang dapat menjadi pertimbangan untuk kebutuhan perjalanan dengan berbagai karakter penggunaan. Namun, penting untuk dipahami bahwa setiap laptop memiliki spesifikasi berbeda dalam hal desain, efisiensi, dan performa, sehingga pemilihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

1. ASUS Vivobook S 14 (M3407)

laptop travelling

ASUS Vivobook S 14 (M3407) menjadi salah satu opsi yang menyeimbangkan antara performa dan efisiensi daya dalam bentuk yang tetap ringkas. Laptop ini menggunakan prosesor AMD Ryzen™ AI 7 445 dengan dukungan AMD Radeon Graphics, dipadukan dengan RAM 16GB DDR5 serta penyimpanan 512GB SSD PCIe 4.0 yang cukup responsif untuk kebutuhan kerja harian.

Layar 14 inci WUXGA dengan opsi OLED atau IPS-level memberikan fleksibilitas visual sesuai kebutuhan. Dari sisi konektivitas, perangkat ini sudah mendukung Wi-Fi 6 serta Bluetooth 5.4, ditambah port yang cukup lengkap seperti USB Type-C, USB Type-A, dan HDMI 2.1. Baterai 70WHrs memberikan daya tahan yang cukup panjang untuk penggunaan mobilitas tinggi. Bobot sekitar 1,4 kg masih tergolong nyaman untuk dibawa bepergian. Harga laptop ini berada mulai di kisaran Rp13 jutaan. 

2. ASUS Vivobook S 14 OLED (M5406)

Laptop travelling

ASUS Vivobook S 14 OLED (M5406) menawarkan peningkatan dari sisi efisiensi dan kapasitas penyimpanan. Laptop ini menggunakan AMD Ryzen™ AI 7 350 dengan RAM hingga 24GB LPDDR5X dan SSD 1TB PCIe 4.0 yang lebih lega untuk kebutuhan file besar selama perjalanan.

Layar 14 inci WUXGA OLED memberikan kualitas visual yang lebih tajam, sementara bobot 1,3 kg membuatnya sedikit lebih ringan dibandingkan generasi sebelumnya. Baterai 75WHrs mendukung penggunaan lebih lama dalam aktivitas harian. Dukungan konektivitas seperti USB 4.0 Gen 3 Type-C memberikan fleksibilitas tambahan untuk perangkat eksternal. Harga berada di kisaran mulai dari sekitar Rp15 jutaan.

3. ASUS Zenbook A14 (UX3407)

laptop travelling

ASUS Zenbook A14 (UX3407) dirancang dengan fokus pada mobilitas maksimal. Bobotnya yang hanya sekitar 0,89 hingga 0,9 kg menjadikannya salah satu laptop paling ringan di kelasnya. Prosesor Snapdragon® X Plus X1P 42 100 berbasis ARM menawarkan efisiensi daya tinggi yang mendukung penggunaan panjang tanpa sering mengisi daya.

Perangkat ini dilengkapi layar 14 inci WUXGA dengan pilihan panel OLED atau IPS-level, serta dukungan Wi-Fi 7 yang sudah siap untuk konektivitas masa depan. Meski baterainya 48WHrs lebih kecil dibanding model lain, efisiensi sistem membuat daya tahan tetap optimal untuk penggunaan harian. Harga perangkat ini berada di kisaran Rp18 jutaan.

Laptop untuk kebutuhan traveling idealnya memiliki keseimbangan antara bobot ringan, daya tahan baterai, serta performa yang cukup untuk menunjang aktivitas harian. Beberapa rekomendasi di atas dapat menjadi bahan pertimbangan sesuai kebutuhan. Namun, penting untuk memahami terlebih dahulu apa kebutuhan pekerjaan Anda selama dalam perjalanan. Sehingga, pemilihan laptop dapat disesuaikan agar aktivitas tetap berjalan lancar tanpa mengorbankan kenyamanan.

Hal-Hal Yang Dilarang Dilakukan Di Tempat Kerja

Ketika udah masuk ke dunia kerja, lu bakalan "berperan" di sana. Gue jamin lu ga bakalan bisa jadi diri lu seutuhnya. Lu ga bakalan bisa se-idealis yang lu kira. Lu bakalan menjadi "orang lain" yang mungkin lu ga suka pada awalnya. Namanya juga lagi bermain peran, mau ga mau harus lu lakuin.

Kalo lu udah masuk dunia kerja, lu akan masuk ke dalam "politik kantor". Ketika lu udah berpolitik, barti lu harus bisa memilih pihak yang mendukung karir lu sejauh mungkin. Netral mungkin bisa, asal lingkungannya juga ngedukung. Kalo ga, barti mau ga mau lu harus punya back up.

Anyway, untuk mendukung politik kantor yang akan lu lakuin, setidaknya ada beberapa hal yang ga boleh lu lakuin di kantor:

1. Jadi Biang Gosip!

Ketika ada yang mancing-mancing lu untuk nyeritain kejadian di kantor, jangan ceritain! Apapun ceritanya sama siapa pun! Meskipun menurut lu itu sahabat lu sendiri di kantor, never trust anyone! Setiap dinding kantor punya telinga. Sekali aja lu nyebarin gosip, mau itu fakta/ga, habis reputasi lu. Bakalan dicap 1 kantor jadi biang gosip dan ga akan ada lagi yang mau cerita sama lu.

Pro tips: kalo lu tau gosip kantor apapun, simpan buat lu aja. Ga perlu lu konfirmasi, ga perlu lu validasi, apalagi lu ceritain ke orang lain, ga perlu! Diem aja kalo ada gosip apapun. Kalo ada yang nyeritain lu soal gossip kantor, kasih komentar netral aja. Atau kalo lu penasaran, bisa tanya dikit "emang lu tau darimana yang kayak gitu?" Biasanya kayak gitu nanti makin banyak cerita yang keluar wahahaha!

2. Show Off Skill

Kalo punya skill yang di atas rata-rata (apalagi bisa bikin lu dapat duit di luar kerjaan utama) tapi ga relevan sama kerjaan lu, simpen aja! Soalnya kalo orang kantor pada tau, bakalan dimanfaatin untuk ngerjain job desk yang harusnya dikerjakan sama orang lain! Ntar yang ada, kerjaan lu makin banyak, gaji lu segitu-gitu aja!

Biarkan skill dan ilmu lu yang relevan dikerjaan yang bikin lu meniti karir dari bawah. Bukan karena skill yang ga relevan sama job desk lu yang bikin lu bertahan di sana. Mau lu sebutuh validasi apapun sama orang kantor terhadap keahlian lu itu, bertahan dan simpan aja!

3. Punya Penghasilan Sampingan

Kalo lu punya kerjaan sampingan daripada kerjaan utama, ga perlu dikasih tau ke orang kantor. Ga cuman takut dimintain tolong secara gratis, tapi ini demi karir lu yang lebih baik. Kok bisa?

Tidak hanya takut dimintain untuk ngerjainnya secara gratis aja, tapi juga demi karir lu sendiri. Kita ga tau rekan kerja itu kayak gimana niatnya. Mau mereka emang niatnya baik atau ga, lebih baik diam aja soal penghasilan sampingan lu ini.

Kenapa?

Karena, bisa jadi saat ada diskusi soal kenaikan pangkat/jabatan buat lu ada yang berkomentar "Ah dia ga perlu dinaikin jabatan, Pak/Bu, dia udah punya banyak duit dari penghasilan di luar kantor". Mau konteksnya becanda/ga, itu crab mentality yang akan selalu ada di kantor yang toksik. Bisa jadi, komentar yang konteksnya ga jelas antara becanda/ga itu berpengaruh ke keputusan atasan lu. Bahaya banget.

4. Curhat Soal Kehidupan Pribadi ke Temen Kantor

Ga cuman menunjukkan kalo lu orangnya over sharing, tapi juga justru membuka diri ke dalam bahaya. Karena orang lain jadi bisa masuk ke kehidupan pribadi lu dengan mudah karena udah dibukain pintunya duluan sama lu. Kalo orang kantor udah masuk ke kehidupan pribadi, lu bakalan ga bisa lagi dapat privasi di kantor.

Pada akhirnya akan sangat berpengaruh ke lingkungan kerja lu nantinya. Ketika lu under perform orang-orang bakalan nyalahin lu yang ga bisa misahin kehidupan pribadi dengan urusan kantor. Akhirnya lu akan dicap ga profesional dan disingkirkan. Bahaya banget, kan?

Belum lagi ada temen yang nusuk dari belakang. Ada aja yang manfaatin kondisi kamu yang udah kena mental untuk memprovokasi orang lain biar mentalmu makin tertekan. Jangan heran, orang-orang jahat tu bisa ada dimana aja, asalkan ada duitnya. 

5. Curhat Soal Kerjaan ke Temen Sendiri

Bukan berarti lu ga boleh cerita apapun soal kerjaan juga. Ceritakan yang perlu diceritain aja. Ga perlu semua diceritain, ga perlu semua juga disimpan. Menurut gue sih kalo ada pencapaian dikerjaan lu, ga ada salahnya infoin ke temen. Siapa tau dia punya koneksi dan nyari skill yang ada di elu, dia bakalan rekomendasiin lu langsung.

Tapi kalo kerjaan lu justru membuka aib perusahaan atau aib kerjaan lu sendiri, hati-hati aja ceritanya. Ga semua orang bisa dipercaya, ga semua orang bisa megang rahasia orang lain. Pilih-pilih orang kalo mau cerita, pilih-pilih cerita kalo mau ngobrol ke orang.

**

Saat zaman susah nyari kerjaan sekarang, jangan terlalu banyak gerakan tambahan di tempat kerja lu. Kalo ada negatif-negatifnya dikit tapi kerjaannya enak, tahan dulu aja karna lu masih butuh gajinya. Fokus sama kerjaan dan karir lu aja, demi masa depan lu juga. 

Bukan berarti lu ga boleh bergaul di tempat kerja, tapi tetap berhati-hati dalam bergaul. Karena dunia kerja itu beda banget dari dunia nyata. Ada politiknya, ada intriknya, ada berbagai macam cara untuk saling menjatuhkan. Kalo lu ga punya survival skill di kantor, lu yang bakalan kena libas sama kompetitor lu.

Refleksi Dari Kejadian Masa Lalu

Gue pernah ikutan salah satu kegiatan kampanye blogger cinta lingkungan beberapa tahun yang lalu. Salah satu kampanye yang "gue banget" yang menggabungkan 2 hal yang relevan banget sama gue: lingkungan hidup dan menulis. Makanya seneng banget bisa ikutan kegiatan ini, meskipun hanya daring.

Kampanye yang bisa dibilang "paket lengkap": dapat ilmu, menulis hal yang gue suka, ketemu temen-temen yang sama minatnya di tulisan dan cinta lingkungan DAN dibayar pula! Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Kegiatan ini berjalan sebanyak 3 season, tapi gue cuman ikutan 2 season aja. Nah, di season 2 itu terjadi hal yang kurang mengenakkan buat gue pribadi. Begini ceritanya:

Waktu menjelang akhir season 2 kampanye ini, dari panitianya bilang bakalan ada acara yang mengundang seluruh blogger untuk dikumpulin dalam 1 tempat dan seru-seruan di sana. Semacam ada seminar atau workshop gitu modelannya. Siapa yang ga seneng dengerin hal ini? Apalagi kalo diberangkatin sama mereka juga, kan?

Semakin yakin bakalan ikut karena ada email pemberitahuan terkait rencana kegiatannya. Artinya udah fix banget nih acaranya ya kann? Pede dan udah siap banget untuk ikutan acaranya gue!

Tapi, semua itu berubah setelah mendekati hari H ga ada konfirmasi lagi. Karena penasaran, gue coba follow up lah ke panitianya. Setelah itu, balesannya adalah "maaf ka, kaka ga bisa ikut karena kami salah data".

Sakit hati ga lu digituin? Kenapa ga bilang dari awal aja kalo emang ga bisa ikutan, sih? Masa nunggu ditanyain dulu baru ngasih tau, njir? Aneh banget panitianya ga profesional! Kalo dikasih tau dari awal ga bisa ikutan, gue ga akan seberharap ini bisa berangkat.

Ada marah, kecewa, sedih, tersinggung dikit. Ga mungkin ga tersinggung sih kalo diginiin. Kecuali lu yang jadi panitianya, mungkin ngerasanya biasa aja kali, ya? Kalo saja mereka yang duluan ngabarin, mungkin gue ga akan sekecewa itu. Sungguh komunikasi yang buruk dari sebuah panitia acara besar.

Gue bahkan sempat update status di wa dan twitter untuk melampiaskan kekesalan itu. Waktu itu gue nulis "gausah pake komunitas-komunitasan kalo mau berangkat, berangkat ae pake duit sendiri!" Bodo amat mau orangnya baca/ga, yang penting bisa ngeluarin isi hati dulu, biar plong!

Sejak kejadian itu, gue bersumpah sama diri sendiri: kalo mau ke Jakarta atau ke tempat lainnya yang lewat bandara, harus dibayarin sama orang! 

Apalagi bandari di sini waktu itu lagi direnovasi dan jadi kayak bandara yang gede gitu. Jadinya setiap kali ngelewatin bandara itu, gue ngucapin kalimat itu terus. Saking sakit hatinya sama panitia acara itu.

Besokannya gue udah bisa move on dari kekecewaaan itu, dengan tetap menjaga sumpah yang udah gue ucapin. Sumpah itu bertahan hingga beberapa tahun berlalu. Hingga akhirnya sumpahnya dilanggar sendiri karena kepengen nonton konser Avenged Sevenfold. Tentu saja gue berangkatnya pake duit sendiri, dong!

Barulah beberapa tahun kemudian sumpah itu benar-benar "dijalankan". Ketika gue pertama kali ke Makassar karena mengikuti rangkaian kegiatan dari Wikimedia Indonesia. Kalo emang udah jadi rezeki kita, mau sejauh apapun jaraknya, tetap jadi punya kita juga.

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini:

Mungkin aja Tuhan emang perlu "matahin" hati kita sekeras ini, biar kita tau rasanya dapetin apa yang harusnya jadi milik kita dengan rasa yang puas. Bahwa apapun yang bukan ditakdirkan untuk kamu, mau sedekat apapun, pasti ga akan jadi milikmu. Tapi ketika hal itu udah ditakdirkan buatmu, mau sejauh apapun jaraknya, pasti akan jadi mlikmu juga.

Boleh kecewa, boleh marah, boleh nangis, gapapa. Lampiaskan aja untuk memvalidasi perasaan kita, wajar banget. Tapi jangan berlebihan apalagi sampe berlarut-larut dan ngaruh ke lingkungan sekitar lu. Kalo udah kayak gitu, hidup jadi ga sehat barti.

Lampiaskan emosi negatif sewajarnya aja, habis itu move on dan lepaskan bebannya. Fokus sama kehidupan yang akan lu jalanin aja, ga perlu lagi mikirin hal-hal yang bikin lu kecewa. Entar ketemu sendiri jalannya "pengganti" hal yang pernah bikin lu sakit hati itu.

Sabar juga salah satu pelajaran yang gue dapatkan dari kejadian ini. Ga semua yang kita inginkan untuk baik. Kadang, kita tu cuman tau yang kita mau aja, padahal belum tentu kita butuh itu. Tapi karena Tuhan itu Maha Tau, Dia yang nentuin apa yang cocok buat kita. Asalkan kita mau bersabar menerima keadaannya.

Hidup ini emang ga pernah ideal, apalagi buat orang yang terbatas akses sumber dayanya. Harus bisa memanfaatkan sumber daya kita punya agar mendekati batas ideal yang kita inginkan. Hidup kadang ga pernah adil, buat orang-orang yang jujur. Tapi bisa jadi, itulah keadilan yang dia dapatkan karena kejujurannya menjauhkannya dari kejahatan.

Belajarlah untuk menerima keadaan yang tak bisa diubah lagi. Untuk sesuatu yang masih bisa kita ubah, maka usahakanlah semaksimal mungkin. Meskipun ada yang bilang "usaha ga pernah mengkhianati hasil", tetap saja kita harus bisa menerima apapun hasil usaha yang kita lakukan.

Kita bakalan menghadapi hal-hal kayak gitu hampir tiap hari. Siapkan mental sejak dini, biar lu kaget sama situasinya dan lu tau harus ngapain. Reaksi yang terukur, bikin hasil lu bisa diukur juga. Logika lu harus jalan, meskipun saat itu mungkin perasaan lu yang menguasai. Kalo logika bisa jalan, lu bisa milih reaksi terhadap peristiwa yang lu hadapi.

Seedbacklink